Senin, 26 Januari 2015

ETIKA PROFESI AKUNTANSI 

 

Definisi Profesional.
Profesi adalah kegiatan atau pekerjaan yang selalu berhubungan dengan sumpah dan janji yang bersifat religius.Profesional berarti suatu sifat yang di miliki seseorang secara teknis dan operasional yang di tetapkan dalam batas-batas etika profesi. Suatu pekerjaan dianggap profesi apabila memiliki ciri-ciri berikut : memiliki keterampilan (skill) , kode etik, taggung jawab dan integritas , pengabdian pada publik , serta memiliki organisasi profesi.
Definisi Teknisi Akuntansi dan Teknisi Akuntansi yang Profesional
Teknisi Akuntansi adalah teknisi yang memiliki kompetensi untuk menjadi tenaga pelaksana pembukuan penyelia bidang akuntansi pada dunia usaha, lembaga pemerintah dan lembaga lainnya.Teknisi akuntansi yang profesional adalah teknisi akuntansi yang telah memenuhi standar kompetensi kerja nasional,internasional, dan standar khusus yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi dari lembaga sertifikasi profesi terakreditasi ,yaitu kompetensi profesional yang pada awalnya memiliki standar pendidikan yang tinggi,diikuti oleh pendidikan khusus,pelatihan,dan ompetensi dalam subjek-subjek relevan dan pengalaman kerja.
Aspek Eksternal dan Internal yang memengaruhi profesi Teknisi Akuntansi
Aspek Internal berasal dari dalam individu sendiri yaitu moral dan profesional.
Aspek Eksternal di antaranya .
a.     Tekanan Berbuat Curang dar manajer atau pemberi kerja
b.     Tekanan bekerja sama antar rekan kerja.
c.     Tekanan bekerja sama antara pemilik perusahaan dan penarik pajak.
d.     Tekanan dari pihak lain.
Prinsip-Prinsip Etika Profesi Teknisi Akuntansi
a.     Tanggung jawab Profesi
b.     Kepentingan Publik
c.     Integritas
d.     Objektivitas
e.     Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
f.        Kerahasiaan
g.     Perilaku Profesional
h.     Standar Teknis
Sistem informasi akuntansi pada suatu organisasi memiliki dua subsistem utama : sistem akuntansi manajemen dan sistem akuntansi keuangan. Sistem informasi akuntansi adalah suatu subsistem dari system informasi manajemen perusahaan secara keseluruhan.
Sistem akuntansi manajemen yaitu penyatuan bagian manajemen yang mencakup, penyajian dan penafsiran informasi yang digunakan untuk perumusan strategi, aktivitas perencanaan dan pengendalian, pembuatan keputusan, optimalisasi penggunaan sumber daya, pengungkapan kepada pemilik dan pihak luar, pengungkapan kepada pekerja, pengamanan asset guna menghasilkan informasi untuk pengguna internal, seperti manajer, eksekutif, dan pekerja.
Secara spesifik akuntansi manajemen mengidentifikasikan, mengumpulkan, mengukur, mengklasifikasikan, dan melaporkan informasi, yang bermanfaat bagi pengguna internal dalam merencanakan, mengendalikan, dan membuat keputusan. Bagian integral dari manajemen yang berkaitan dengan proses identifikasi penyajian dan interpretasi/penafsiran atas informasi yang berguna untuk:
  • Merumuskan strategi.
  • Proses perencanaan dan pengendalian.
  • Pengambilan keputusan.
  • Optimalisasi keputusan.
  • Pengungkapan pemegang saham dan pihak luar.
  • Pengungkapan entitas organisasi bagi karyawan.
  • Perlindungan atas asset organisasi.
Sedangkan akuntansi keuangan adalah bagian dari akuntansi yang berkaitan dengan penyiapan laporan keuangan untuk pihak luar, seperti pemegang saham, kreditor, pemasok, serta pemerintah. Prinsip utama yang dipakai dalam akuntansi keuangan adalah persamaan akuntansi (Aktiva = Kewajiban + Modal).
Akuntansi keuangan berhubungan dengan masalah pencatatan transaksi untuk suatu perusahaan atau organisasi dan penyusunan berbagai laporan berkala dari hasil pencatatan tersebut. Laporan ini yang disusun untuk kepentingan umum dan biasanya digunakan pemilik perusahaan untuk menilai prestasi manajer atau dipakai manajer sebagai pertanggungjawaban keuangan terhadap para pemegang saham.
Hal penting dari akuntansi keuangan adalah adanya Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang merupakan aturan-aturan yang harus digunakan didalam pengukuran dan penyajian laporan keuangan untuk kepentingan eksternal. Dengan demikian, diharapkan pemakai dan penyusun laporan keuangan dapat berkomunikasi melalui laporan keuangan ini, sebab mereka menggunakan acuan yang sama yaitu SAK. SAK ini mulai diterapkan di Indonesia pada 1994, menggantikan Prinsip-prinsi Akuntansi Indonesia tahun 1984.
Perbandingan antara akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan dapat diklasifikasikan dalam beberapa faktor:
  1. Pengguna
  2. Pembatasan pada masukan dan proses
  3. Jenis Informasi
  4. Orientasi Waktu
  5. Tingkat agregasi
  6. Keluasan
 ARTIKEL TEORI AKUNTANSI

A.    Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Akuntansi merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengubah input (data-data transaksi) menjadi output (laporan keuangan) yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan ekonomik. Suatu entitas akan menggunakan akuntansi untuk menunjukkan bahwa kondisi keuangannya layak untuk mendapatkan tambahan kredit, atau untuk menunjukkan bahwa entitas tersebut aman untuk dijadikan tempat berinvestasi. Suatu entitas juga akan menggunakan akuntansi untuk meninjau apakah pemasoknya masih layak, apakah entitas sudah mengalahkan pesaing, atau apakah strategi bisnis yang dicanangkannya sudah berhasil.
Dalam konsep perekonomian saat ini, setiap entitas bebas untuk melakukan aktivitas ekonomi. Setiap entitas juga bebas untuk mengoptimalkan input dan proses untuk mendapatkan output. Prinsip ekonomi ini jika ditambah dengan sifat dasar manusia yaitu keserakahan (greed) akan menjadikan akuntansi sebagai alat untuk melakukan fraud.
Sejak akuntansi pertama kali ditemukan, pelaporan keuangan telah diatur sedemikian rupa sehingga laporan keuangan dapat menyajikan informasi yang benar-benar dapat diandalkan untuk pengambilan keputusan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, akuntan menemukan banyak celah dalam pendekatan-pendekatan pelaporan keuangan yang telah ada, untuk melakukan fraud. Hal ini merupakan salah satu sebab munculnya pengaturan akuntansi baru yang berbasis prinsip yaitu IFRS.
International Financial Reporting Standards (IFRS) adalah sebuah standar yang kerangka dan interprestasinya diadopsi oleh Accounting Standards Board (IASB). Banyak standar membentuk bagian dari IFRS yang dikenal lebih dahulu, yaitu International Accounting Standards (IAS) yang diterbitkan antara tahun 1973 dan 2001 oleh International Accounting Standards Committee (IASC). Dan pada tanggal 1 April 2001 diambil alih tanggung jawabnya oleh IASB untuk menetapkan Standar Akuntansi Internasional. Yang kemudian IASB terus mengembangkan standar menyebut standar IFRS baru.
IFRS dianggap sebagai "prinsip-prinsip berdasarkan" peraturan luas terdiri dari: (1) Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS)-standar yang dikeluarkan setelah tahun 2001; (2) Standar Akuntansi Internasional (IAS)-standar yang diterbitkan sebelum 2001; (3) Interpretasi berasal dari interpretasi Pelaporan Keuangan Internasional Komite (IFRIC)-yang diterbitkan setelah tahun 2001; (4) Berdiri Interpretasi Committee (SIC)- yang diterbitkan sebelum 2001; (5) Kerangka Penyajian dan Penyusunan Laporan Keuangan.
IFRS digunakan di banyak bagian dunia, termasuk Uni Eropa, Hong Kong, Australia, Malaysia, Pakistan, negara-negara GCC, Rusia, Afrika Selatan, Singapura, dan Turki. Sejak 27 Agustus 2008, lebih dari 113 negara di seluruh dunia, termasuk seluruh Eropa, saat ini membutuhkan atau mengizinkan pelaporan berdasarkan IFRS. Sekitar 85 negara-negara membutuhkan IFRS pelaporan untuk semua, perusahaan domestik yang terdaftar. Sedangkan di Indonesia sendiri baru akan diadopsi mulai tahun 2012 mendatang dan dengan diadopsinya IFRS secara penuh, maka laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK tidak memerlukan rekonsiliasi yang signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS. Namun perubahan tersebut tentu akan memberikan efek di berbagai bidang, terutama dari segi pendidikan dan bisnis. Salah satunya adalah, banyak menggunakan fair value accounting dalam dunia pendidikan dan dalam dunia bisnis akan menyebabkan smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunaan balance sheet approach dan fair value.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul, Fair Value Sebagai Dasar Pengukuran Aset Dalam Suatu Entitas.


B.     Pembahasan
1.      Fair Value
Menurut PSAK Nomor 10 pengertian nilai wajar (fair value) adalah, Suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai dasar pertukaran aktiva atau penyelesaian kewajiban antara pihak yang paham (knowledgeable) dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm's length transaction).
Menurut GAAP pengertian Fair Value adalah:
The fair value of an asset is the amount at which that asset could be bought or sold in a current transaction between willing parties, other than in a liquidation. On the other side of the balance sheet, the fair value of a liability is the amount at which that liability could be incurred or settled in a current transaction between willing parties, other than in a liquidation. If available, a quoted market price in an active market is the best evidence of fair value and should be used as the basis for the measurement. If a quoted market price is not available, preparers should make an estimate of fair value using the best information available in the circumstances. In many circumstances, quoted market prices are unavailable. As a result, difficulties occur when making estimates of fair value.
Menurut FASB pengertian Fair Value adalah Fair value sebagai tingkat harga dimana aset dapat ditukar pada transaksi sekarang di antara pihak-pihak yang mengetahui dan bersedia. Untuk hutang, fair value diartikan sebagai jumlah yang akan dibayarkan untuk mentransfer kewajiban kepada debitor baru.
Menurut Dictionary of Accounting adalah:
A price paid by a buyer who knows the value of what he or she is buying, to a seller who also knows the value of what is being sold, i.e., neither is cheating the other”. Atau “A method of valuing the assets and liabilities of a business based on the amount for which they could be sold to independent parties at the time of valuation family company.
Menurut International Accounting Standar Fair Value adalah Fair value is defined in terms of a price agreed by a willing buyer and a willing seller in an arm’s length transactio.
2.      Perdebatan Mengenai Fair Value
Fair value ditetapkan oleh International Accounting Standard Board (IASB) sebagai dasar untuk mengukur aset. Dengan diperkenalkannya International Financial Reporting Standard (IFRS) di berbagai belahan dunia, penggunaan metode fair value secara benar menjadi sangat penting. Akan tetapi, jika kekuatan ekonomi terbesar di dunia tidak termasuk di dalamnya (Amerika Serikat), maka tidak dapat benar-benar disebut seluruh dunia. Amerika Serikat tidak mengadopsi IFRS, akan tetapi mereka mempunyai standar akuntansi sendiri yang disusun oleh Financial Accounting Standard Board (FASB). FASB tidak mengakui fair value sebagai dasar untuk mengukur aset, mereka mencatat aset dengan dasar biaya historis (historic cost). Meskipun demikian, FASB dan IASB bekerja sama untuk berusaha mengharmonisasikan standar akuntansi masing-masing. Pertanyaan mengenai bagaimana aset seharusnya diakui di neraca merupakan salah satu isu penting yang harus dicari solusinya. Untuk itu baik IASB maupun FASB melakukan pengujian secara seksama terhadap fair value, tentang arti dari fair value dan bagaimana seharusnya diaplikasikan. Sementara itu FASB secara serentak melakukan investigasi sendiri terhadap fair value dan telah menerbitkan sebuah exposure draft.
Seiring perkembangan zaman, ternyata penggunaan historical cost tidak lagi relevan karena kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan telah terhambat oleh tantangan yang serius. Banyak orang yang berpendapat dan yakin bahwa standar akuntansi yang menggunakan historical cost memainkan peranan penting sebagai penyebab kerusakan perekonomian, terutama lembaga simpan pinjam tahun 1980-an dan masalah perbankan 1990-an, karena pada waktu itu banyak laporan keuangan yang tidak mengungkapkan kerugian segera pada saat terjadi. Sehingga terdapat kesepakatan bahwa standar akuntansi yang ada perlu diperbaiki untuk memastikan bahwa laporan keuangan bermanfaat, relevan, dan terpercaya. Dan dibuatlah laporan keuangan berbasis Fair Value.
Ada banyak diskusi dalam beberapa waktu terakhir mengenai peran akuntansi dalam penurunan ekonomi baru-baru ini. Sejak krisis keuangan dimulai, dan perdebatan tentang akuntansi nilai wajar semakin intensif. Bank-bank dan pihak-pihak lain berpendapat bahwa akuntansi nilai wajar bertanggung jawab atas kelemahan dan ketidakstabilan yang mereka alami, sedangkan akuntan dan pengacara investor berpendapat bahwa kebenaran (fakta tentang aset milik bank-bank) adalah apa yang akhirnya menyebabkan masalah mereka.
Pada tahun 1938, Presiden Franklin D. Roosevelt menghapuskan akuntansi MTM; Milton Friedman menuduh akuntansi MTM sebagai sumber utama yang menyebabkan melemahnya modal yang menyebabkan bank-bank dilikuidasi dalam “Great Depression” (Berry 2008). Pertanyaan berikutnya adalah apakah fair value memainkan peran dalam krisis keuangan baru-baru ini?
Untuk memahami implikasi dari fair value, kita harus mulai dengan pentingnya akuntansi terhadap sistem ekonomi kita. Pusat kapitalisme adalah identifikasi harga dan perhitungan laba rugi. Penilaian paling penting yang dibuat oleh manajer adalah apakan keputusan mereka menghasi paling penting yang dibuat oleh manajer adalah apakan keputusan mereka menghasilkan keuntungan (laba) atau kerugian. Apalagi, investor, kreditor, dan partner bisnis menggunakan data akuntansi untuk membuat keputusan untuk alokasi investasi, memperpanjang kredit, dan mengevaluasi kerja sama.
Menggunakan akuntansi mark-to-market akan berakibat perubahan yang terus-menerus pada laporan keuangan perusahaan ketika nilai aset mengalami kenaikan dan penurunan serta laba dan rugi yang dicatat. Hal ini membuat semakin sulit untuk memastikan apakah laba dan rugi diakibatkan oleh keputusan bisnis yang dibuat manajemen atau oleh perubahan yang terjadi di pasar.
Masalah lain muncul saat akan mengubah nilai aset berdasarkan harga pasar. Siapa yang menentukan harga pasar? Ini mungkin pertanyaan yang mendasar, misalnya bagaimana menentukan harga pasar dari hutang obligasi yang dijamin.  Kubu yang menentang akuntansi berdasarkan nilai pasar menggunakan argumentasi bahwa market value accounting kurang dapat dipercaya dan menjadi halangan utama dalam penerapannya dan kukuh menganggap model historical cost lebih unggul sebab lebih dapat dipercayai (tingkat reliabilitas-nya lebih tinggi). Mereka ngotot bahwa subjectivity estimasi nilai wajar aktiva (fair value asset) dan liabilities tanpa pasar yang likuid membuat laporan keuangan menjadi tidak dapat dipercaya. Tetapi ada juga sebagian orang beranggapan bahwa subjectivity selalu menjadi bagian dari akuntansi dan masalah pengukuran dalam melaporkan informasi keuangannya berdasarkan nilai pasar berhasil diterapkan perusahaan, juga ketika penggabungan usaha dengan metode pembelian. Kemungkinan terbaik estimasi konsep relevan adalah bahwa penggunaan estimasi lebih baik ketimbang menggunakan ukuran yang tidak relevan. Masalah yang selalu ada yang tidak dapat dihindari adalah bahwa model akuntansi berdasarkan historical cost tidak mengakui adanya perubahan nilai bersifat ekonomis, dan cenderung membiarkan perusahaan memilih sendiri apakah dan kapan mengakui adanya perubahan tersebut. Ini mendorong adanya bias dalam pemilihan apa yang dilaporkan, dan memperburuk kompromi 
Akan tetapi, hal yang cukup menarik adalah bahwa angka-angka yang dilaporkan dengan sistem akuntansi berdasarkan nilai pasar mempunyai korelasi sangat kuat dengan harga saham, dan memberi petunjuk bahwa nilai berdasarkan pasar lebih baik (lebih terpercaya) dari pada nilai berdasarkan historical cost seperti di AS. Akan tetapi, meskipun mempunyai keunggulan, sistem market value accounting berpotensi rentan terhadap manipulasi dan kesalahan estimasi, tidak ditemukan bukti yang menunjukkan bahwa angka-angka nilai berdasarkan pasar dikelola untuk menghindari peraturan yang membatasi permodalan. Dapat disimpulkan bahwa, pada akhirnya, penggunaan market value accounting akan memberikan dukungan berharga kepada lembaga-lembaga keuangan.
Arthur Wyatt, Chairman International Accounting Standards Committee pada Accounting Horizon (March 1991) mengemukakan beberapa kelemahan standard akuntansi yang ada selama ini. Dia mengingatkan bahwa mengaitkan investasi dengan pasar adalah bersumber dari perdebatan kalangan akademik yang akhirnya berubah menjadi masalah penting yang harus dipraktekan. Salah satu komentar dari kalangan akademika adalah mengatakan bahwa standard akuntansi yang ada secara artificial dapat menaikkan capital (modal), dan pihak-pihak yang menggunakan market value accounting akan mendorong “artificial volatility” dan menduga bahwa pola pendapatan yang dilaporkan perusahaan yang relatif smooth selama kurang lebih 50 tahun mungkin benar-benar artifisial. Bapak Wyatt menjelaskan bahwa terlalu banyak orang percaya pada angka-angka akuntansi seolah-olah angka tersebut mencerminkan realitas ekonomi, padahal sebenarnya, akibat penggunaan model historical cost, akuntansi semakin menjauh dari kenyataan ekonomi. Beliau mengingatkan dan berkepentingan dengan masalah bahwa akuntansi berdasarkan historical cost, pengakuan kerugian dapat ditunda hampir tanpa batas dan mengemukakan argumentasinya bahwa model historical cost dapat mendorong kebijakan manajemen investasi yang tidak baik, menjual saham yang menguntungkan dan menahan saham yang merugikan.
3.      Kebaikan Menggunakan Fair Value
Sebagaimana diungkapkan Wibisana (2009), dibanding historical cost, fair value memiliki tiga keunggulan, yaitu:
Laporan keuangan menjadi lebih relevan untuk dasar pengambilan keputusan; meningkatkan keterbandingan laporan keuangan; dan informasi lebih dekat dengan apa yang diinginkan oleh pemakai laporan keuangan. Dengan demikian, potensi laba/rugi sebuah perusahaan jauh jauh hari sudah bisa diprediksikan.
Selain itu ada beberapa penelitian diantaranya Keliat (2009) yang hasilnya menunjukkan bahwa:
Nilai wajar yang dianalisis berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan. Sedangkan variabel yang paling berpengaruh adalah nilai wajar berdasarkan metode excess earnings dengan tolok ukur laba ekonomi. Temuan ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya, diantaranya Miller dan Modigliani (1961) yang menyatakan bahwa sumber yang paling mendasar atas saham adalah laba.
Jadi, kesimpulannya ada beberapa yang menjadi kebaikan dalam menggunakan Fair Value yaitu:
a.       Relevance.
Banyak orang percaya bahwa standard akuntansi historical cost telah banyak kehilangan relevansinya karena kegagalannya mengukur realitas ekonomi. Hampir semua orang setuju bahwa peristiwa ekonomi yaitu, kejadian yang mengubah waktu kapan arus kas diterima dan jumlahnya yang akan datang harus tercermin (terungkap) dalam laporan keuangan lembaga. Akan tetapi, seringkali model historical cost hanya mengukur transaksi sudah selesai dan gagal mengakui adanya perubahan nilai riil lain yang dapat terjadi.
b.      Reliability.
Masalah yang selalu ada yang tidak dapat dihindari adalah bahwa model akuntansi berdasarkan historical cost tidak mengakui adanya perubahan nilai bersifat ekonomis, dan cenderung membiarkan perusahaan memilih sendiri apakah dan kapan mengakui adanya perubahan tersebut. Ini mendorong adanya bias dalam pemilihan apa yang dilaporkan, dan memperburuk kompromi kenetralan dan dipercayainya informasi keuangan.
4.      Keburukan Menggunakan Fair Value
a.       Fair value berusaha menyediakan informasi yang transparan dengan menilai aset pada tingkat harga yang dihasilkan jika segera dilikuidasi-sehingga sangat sensitif terhadap pasar.
b.      Akuntansi fair value bekerja melalui akuntansi mark-to-market (MTM), yaitu aset dicantumkan pada harga pasar mereka jika diperdagangkan secara terbuka. Menggunakan akuntansi mark-to-market akan berakibat perubahan yang terus-menerus pada laporan keuangan perusahaan ketika nilai aset mengalami kenaikan dan penurunan serta laba dan rugi yang dicatat. Hal ini membuat semakin sulit untuk memastikan apakah laba dan rugi diakibatkan oleh keputusan bisnis yang dibuat manajemen atau oleh perubahan yang terjadi di pasar.
c.       Volatility.
Lembaga keuangan mengatakan bahwa mereka takut akuntansi berdasarkan pasar akan menyebabkan volatility kinerja lembaga (karena semakin mudahnya nilai item-item aktiva dan pasiva berfluktuasi). Walaupun sebenarnya lembaga keuangan yang senantiasa mengelola bahaya yang mengancam asset dan liability hanya sedikit takut dengan market value accounting. Laporan keuangan lembaga keuangan yang kurang efektif dalam mengelola risiko akan tercermin pada volatility yang selalu ada dalam setiap usahanya. Para investor dan kreditur akan memiliki informasi yang lebih berguna dan relevan dalam membedakan risiko antar perusahaan, ketika mengambil keputusan investasi dan keputusan pemberian kredit (jika menggunakan MVA).
Hasil Penelitian yang Relevan:
Jurnal Internasional
Vol. 4, No. 12 International Journal of Business and Management 194
Discussion for Applicability of the Fair Value Measurement in the Financial Crisis
Yujing Gao & Gaichune
Shandong Economic University, Accounting Institute Jinan 250014, China
E-mail: gaoyujing152760@163.com
Abstract
In the context of the whole world financial crisis, the fair value measurement has been provoked furious condemnation. Some even require revert fair value measurement to historical cost valuation method. In this paper, the author analyze the relation between fair value and financial crisis, and on this basis, pointed out that the fair value measurement is only a catalyst rather than the root causes of the financial crisis. Fair value measurement still has applicability in the context of the financial crisis, and analyzed the reasons for the applicability of the fair value.
Keywords: Financial Crisis, Fair value, Applicability
1.      Raise the Question
The U.S. financial crisis triggered by the sub-prime crisis has swept the globe, and evolved into a global financial crisis. At the present time, the financial crisis is engulfing Wall Street crazily, and also hitting violently the fair value measurement which representing the future direction. Although the fair value once bring happiness to the Wall Street bankers, but now they are talking about the mere mention of the fair value. They said that the fair value, particularly in the measurement of market-based approach, can not objectively reflect the value of the assets, and also in the financial crisis, made the company reports too "ugly", affected the company's performance and investors’ confidence, played a fueling role. Worse still, some people believe that the international accounting standards’ provisions for the fair value are one of the culprits that causing the financial crisis. The sound was immediately received by a number of financial industry and members of Congress. So they combined to pressure the government and require fair value measurement method will be changed back to historical cost method in order to stabilize the people's hearts.
2.      Fair Value Measurements and Financial Crisis
The U.S. Financial Accounting Standards No. 157 guidelines require that there are three levels about fair value measurement. The first level is the financial products that have an active market transactions, the fair value of such products is determined by an active market price. The second level is the financial products that have not an active trading market circumstances, the fair value of these products refer to the similar products in an active market, or use the value models that can be supported by an objective reference value. The third level is the financial products that have not an active trading market, the fair value of these products require managements establish the valuation models which based on the subjective judgments and the market assumptions (Yang, 2008, p.147).
Before the outbreak of the financial crisis, financial instruments are pricing in accordance with the first level. But financial crisis has led the real market to a no longer active market. In a no longer active market, the financial institutions should valuation the fair value under the third level. However, because the guidelines are not entirely reasonable, so the financial instruments still valuation in accordance with the first-level. And enable the prices of the financial assets and derivative financial products departure from its intrinsic value badly.
The assets that measured by fair value are undervalued. A large number of provision for impairment, result in huge losses of book value, thus affect the report performance. The investors analyze operation performance according to the published financial statements data and reinforce people's confidence crisis, but the actual loss should be much smaller than the book. Meanwhile, due to the sluggish market conditions, most of the normal production and business operations have been affected, reducing the scale of operation exist widely, and part of the transaction business are at the edge of bankruptcy, the value of assets or liabilities that held by enterprises departure from the true value.(E,2008, p.74-75) The fair value can not reflect the fair value of the assets, and deeply measure the extent of the financial crisis. So it become the object of criticism, and had been accused of financial crisis “worse” or even the “culprit” of financial crisis.
3.      Fair Value Measurement is a Catalyst Rather than the Root Causes of the Financial Crisis
However, the fair value measurement is not the "culprit" of the financial crisis, it only played a catalytic role in the financial crisis. Fair value itself has no problem. The question is that the prerequisite of fair value measurement has changed. In the financial crisis, an active trading market does not exist. Therefore, the fair value of financial products is no longer determined by the market quotations. However, as the changed prerequisite, people still select the fair value. Therefore, fair value measurement methods deep the financial crisis, and led to people's criticism of fair value measurement.
The fair value measurement has the pro-cyclical feature, it can enhance the sense of happiness at bubble period, and escalate panic at the time of crisis (Fu, 2008, p.10-15). In accordance with the market valuation cases, when markets are weak, the financial asset prices fell, each participant in the market will report losses, although this is a nominally loss, but the rights and interests will be eroded. Since the second half of 2007, the U.S. sub-prime mortgage crisis unfold, along with the rising of mortgage default rates, financial products’ prices continued to fall, resulting in a large number of financial institutions have to provision for impairment of its assets, resulted in a large number of investors selling the holding financial assets crazily, and a sharp decline in the value of financial assets, financial asset prices fall further, and hit the investor confidence, thus the investor continue to sell financial assets, resulting in a new round of falling of financial asset prices (Chen,2008,p.108-109). It is that the fair value’ pro-cyclical feature exacerbate the financial crisis, and form a double vicious circle of the capital markets and commodity markets.
However, the application of fair value measurement is totally clear and definite response to investors’ requests and requirements. Fair value provides more transparent information to investors. But the financial industry neglect the investors’ information needs, only criticize fair value measurements, but can not raise a convincing alternative. Fair value is more transparent, timely and efficient in making information users understand the scale and impact of financial crisis than historical cost. Fair value measurement is not the root causes of the financial crisis, in fact, the financial sector created the real estate bubble, and through unregulated, non-transparent financial innovations such as asset securitization approach to enlarge the financial asset bubble, since the United States use historical cost principle long-term, these issue has not surfaced, the accounting with fair value measurement model, timely, transparently and openly disclosure the financial asset bubbles, make the shortcomings of the U.S. financial system public in the world, prompting the financial sector, investors and financial regulatory authorities to address and resolve financial asset bubbles. If there is no use of fair value measurement, investors may be concealed in the bubble that the financial sector created.
4. Fair Value Measurement Still has the Applicability in the Global Financial Crisis
a.      Fair Value Measurement Make Accounting Earnings More Relevant
According to the traditional concept of accounting earnings, accounting earnings is the differences between the realized income and the corresponding costs. The fair value measurement is to take measure of the fair value of the capital and liabilities at the balance sheet date, but also measured the profits and losses that caused by the change of fair value. This can compensate for the lacking of accounting earnings, and more reasonably reflect the financial position, operating results, cash flow and real earnings of the enterprise (Zhu,2008,p.4-5). The accounting information that measured at fair value provides more highly relevant information compared to historical cost.
b.      Fair Value Measurement’s Basis for Decision-usefulness View Still Exists
The basic goal of modern accounting is to be useful for a decision-making, takes into account to reflect the fiduciary duty. In the concept of fiduciary responsibility, the accounting information mainly report the responsibility of management that fulfill the economic situation. Assets measurement is mainly to protect the assets safety and integrity, and more emphasis on the reliability of accounting information, and select historical cost as a measurement model. In the decision-usefulness view, the relevance associated with the concept of decision-useful features. People increase relevance in order to enhance the usefulness of the decision-making. Accounting goal require not only the information in the past, but also the information on the performance of present and future. People advocate using a market-pricing to determine the fair value of financial assets. Fair value measurement is not only able to meet the needs of short-term speculative, but also able to meet the needs of investors in the long-term decision-making, which is widely used (Peng,2008, p.4-8). Currently, fair value measurement’s basis for decision-usefulness view still exists. It is difficult to weaken the fair value measurement.
c.       The Basic Reason of Fair Value Measurement is Operation Rather than the Basic Usage
Determining fair value by an active market quotation can reflect the real value of financial assets, in accordance with the economic substance of the fair value, and also operational. However, when a mutation in the market, especially the U.S. financial crisis has led to loss of market confidence, the market quotation is not the optimal choice to determine the fair value. In the financial crisis, the troubled sellers of assets are in the "Bargain" situation and irrational state, market price is also similar to the clearing price of rapid realization assets, does not meet the accounting assumptions of "sustainable management". Moreover, in this financial crisis, there appeared the phenomenon of market liquidity suddenly disappeared, and the trading volume of many varieties of stock shrank greatly, indeed, without a buyer, in this case the market is or not an active market is worth exploring. The causes of the financial crisis are the excessive debt of consumers and over-leveraged of financial institutions, excessive securitization of capital markets and excessive liberalization of financial supervision. The accounting standards are not the culprit, fair value measurement’sapplication basis and the economic meaning have no problems, but the method of operation based on the non-fair market price to determine the fair value in practice, fueled some effect to the financial crisis. We should not deny fair value’ scientific content, but should establish an effective mechanism to adjust the mode to determine fair value under non-normal, non-efficient market condition.
d.      SEC Relax the Fair Value Measurement Standard Rather than Stopping
September 30, 2008, the United States Securities and Exchange Commission released a guidance of Financial Accounting Standards No. 157 "Fair Value Accounting", requiring companies can not simply rely on the non-active trading price under the financial crisis conditions, but should determine the fair value of financial assets through the length of time of price declines, or as well as the judge of the market liquidity, or with the help of internal valuation models and assumptions. The second rescue package that U.S. House of Representatives through on October 3, specifically granted the United States Securities and Exchange Commission the re-classification rights for the financial assets. And asked the U.S. Securities and Exchange Commission refer the investigation report about the market measurement to congress within 90 days, and decide whether to terminate the accounting standards, but still insist on using fair value measurement before the outcome of the investigation. This shows that the provisions of No. 157 guidelines have been relaxed to some extent, and also reflects that the SEC and the FASB has not completely succumbed to the pressure of the financial sector, resist the pressure of stopping fair value accounting standards completely.
References
Chen, Yuyuan. Generally. (2008).Accepted Accounting Principles Which Related to The U.S. Sub-prime Mortgage Crisis and The Response. Communication of Finance and Accounting, 10,108-109.
E, zhaodi. (2008). Fair Value and the U.S. Subprime Mortgage Crisis. CO-opertive economy & Science, 12, 74-75
Fu, Qiang. (2008). Fair Value and Sub-prime. Accounting Research, 11, 10-15.
Peng, Nanting and Wang, Xiwu. (2008). The Fair Value Accounting under the Financial Crisis. Accounting Research, 12,4-8.
Yang, Guanghui. (2008). Reflections on Fair Value Measurements Triggered by the Financial Crisis. Economic & Trade,10, 147.
Zhu, Jinping. (2008). The Trend of The Fair Value. Friends of Accounting, 11, 4-


C.    Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pihak yang mendukung dan menentang fair value. Karena banyak masalah akuntansi yang dapat dipecahkan dengan menggunakan fair value sebagai dasar pengukuran asset dan liability yang diungkapkan dalam laporan keuangan perusahaan karena relevance dan reability, pengawas lembaga keuangan dari waktu ke waktu secara terus menerus meningkatkan penerapan konsep fair value. Tetapi fair value juga sangat sensitif terhadap pasar sehingga akan semakin sulit untuk memastikan apakah laba dan rugi diakibatkan oleh keputusan bisnis yang dibuat manajemen atau oleh perubahan yang terjadi di pasar, termasuk volatility kinerja lembaga karena semakin mudahnya nilai item-item asset dan liability berfluktuasi.
Penerapan model Nilai Wajar ini akan lebih bermanfaat bagi dunia investasi, pasar modal, pemilik, kreditur dan stakeholder karena nilai wajar mengadopsi prinsip ‘mark to market’ yang seharusnya dapat memberikan gambaran yang lebih realistis akan jumlah yang tercatat di neraca sehingga penerapannya secara konsisten di seluruh dunia patut untuk didukung. Untuk itu diperlukan sosialisasi guna meningkatkan pemahaman mengenai penerapan model nilai wajar dan pengaturannya di dalam Standar Penilaian kepada pengguna jasa, Penilai, regulator danstakeholder sehingga penerapan nilai wajar baik untuk aset maupun kewajiban ini dapat dilaksanakan secara tepat dan konsisten.


Daftar Pustaka
Magnan, M. (2009). Fair Value Accounting and the Financial Crisis: Messenger or Contributor?. Diperoleh 21 Desember 2013, dari http://www.cirano.qc.ca/pdf/publication/2009s-27.pdf.
McCullough, M. (2009). The Dangers of Fair Value Accounting. Diperoleh 21 Desember 2013, dari http://www.scribd.com/doc/19594894/Fair-Value-Accounting.
Bechara, Michael (2010). Is Fair Value Accounting ..Well….Fair?. Diperoleh 21 Desember, dari http://www.scribd.com/doc/26441843/Fair-Value-Accounting#about.
Hinsa (2009). Implikasi dan Permasalahan dalam Mengimplementasikan Konsep Nilai Wajar Dalam Kondisi Ekonomi Saat Ini. Diperoleh 21 Desember 2013, dari http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian%5CSeminar%20nasional%20Mark%20to%20Market%20Accounting.pdf.
Dictionary of Accounting
Gao, Yujing & Gaichune. (2009). Discussion for Applicability of the Fair Value Measurement in the Financial Crisis, International Journal Of Business Management, vol 4 no 12 (21 Desember 2013).
Siahaan, Hinsa (2009). Implikasi dan Permasalahan dalam Mengimplementasikan Konsep Nilai Wajar Dalam Kondisi Ekonomi Saat Ini. Diperoleh tanggal 21 Desember 2013 http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian Seminar nasional Mark  to  Market Accounting.pdf.