ARTIKEL TEORI AKUNTANSI
A. Pendahuluan
1. Latar
Belakang
Akuntansi
merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengubah input (data-data transaksi)
menjadi output (laporan keuangan) yang menjadi dasar dalam pengambilan
keputusan ekonomik. Suatu entitas akan menggunakan akuntansi untuk menunjukkan
bahwa kondisi keuangannya layak untuk mendapatkan tambahan kredit, atau untuk
menunjukkan bahwa entitas tersebut aman untuk dijadikan tempat berinvestasi.
Suatu entitas juga akan menggunakan akuntansi untuk meninjau apakah pemasoknya
masih layak, apakah entitas sudah mengalahkan pesaing, atau apakah strategi
bisnis yang dicanangkannya sudah berhasil.
Dalam
konsep perekonomian saat ini, setiap entitas bebas untuk melakukan aktivitas
ekonomi. Setiap entitas juga bebas untuk mengoptimalkan input dan proses untuk
mendapatkan output. Prinsip ekonomi ini jika ditambah dengan sifat dasar
manusia yaitu keserakahan (greed) akan
menjadikan akuntansi sebagai alat untuk melakukan fraud.
Sejak
akuntansi pertama kali ditemukan, pelaporan keuangan telah diatur sedemikian
rupa sehingga laporan keuangan dapat menyajikan informasi yang benar-benar
dapat diandalkan untuk pengambilan keputusan. Namun seiring dengan berjalannya
waktu, akuntan menemukan banyak celah dalam pendekatan-pendekatan pelaporan
keuangan yang telah ada, untuk melakukan fraud. Hal ini merupakan salah satu sebab munculnya
pengaturan akuntansi baru yang berbasis prinsip yaitu IFRS.
International Financial Reporting Standards (IFRS) adalah sebuah standar yang kerangka dan
interprestasinya diadopsi oleh Accounting Standards Board (IASB). Banyak
standar membentuk bagian dari IFRS yang dikenal lebih dahulu, yaitu International Accounting Standards (IAS)
yang diterbitkan antara tahun 1973 dan 2001 oleh International Accounting Standards Committee (IASC). Dan pada
tanggal 1 April 2001 diambil alih tanggung jawabnya oleh IASB untuk menetapkan
Standar Akuntansi Internasional. Yang kemudian IASB terus mengembangkan standar
menyebut standar IFRS baru.
IFRS dianggap sebagai "prinsip-prinsip berdasarkan"
peraturan luas terdiri dari:
(1) Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS)-standar yang
dikeluarkan setelah tahun 2001; (2) Standar Akuntansi
Internasional (IAS)-standar yang diterbitkan sebelum 2001; (3) Interpretasi
berasal dari interpretasi Pelaporan Keuangan Internasional Komite (IFRIC)-yang
diterbitkan setelah
tahun 2001; (4) Berdiri
Interpretasi Committee (SIC)- yang diterbitkan sebelum 2001; (5) Kerangka
Penyajian dan Penyusunan Laporan Keuangan.
IFRS digunakan di banyak bagian dunia, termasuk Uni Eropa,
Hong Kong, Australia, Malaysia, Pakistan, negara-negara GCC, Rusia, Afrika
Selatan, Singapura, dan Turki. Sejak 27 Agustus 2008, lebih dari 113 negara di
seluruh dunia, termasuk seluruh Eropa, saat ini membutuhkan atau mengizinkan
pelaporan berdasarkan IFRS. Sekitar 85 negara-negara membutuhkan IFRS pelaporan
untuk semua, perusahaan domestik yang terdaftar. Sedangkan di Indonesia sendiri
baru akan diadopsi mulai tahun 2012 mendatang dan
dengan diadopsinya IFRS secara penuh, maka laporan keuangan yang dibuat
berdasarkan PSAK tidak memerlukan rekonsiliasi yang signifikan dengan laporan
keuangan berdasarkan IFRS. Namun perubahan tersebut tentu akan memberikan efek
di berbagai bidang, terutama dari segi pendidikan dan bisnis. Salah satunya
adalah, banyak menggunakan fair value
accounting dalam dunia pendidikan dan dalam dunia bisnis akan menyebabkan smoothing income menjadi semakin sulit
dengan penggunaan balance sheet approach
dan fair value.
Berdasarkan uraian latar belakang
diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul, “Fair
Value Sebagai Dasar Pengukuran Aset Dalam
Suatu Entitas”.
B. Pembahasan
1.
Fair Value
Menurut PSAK Nomor 10 pengertian nilai wajar (fair value)
adalah,
Suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai dasar pertukaran
aktiva atau penyelesaian kewajiban antara pihak yang paham (knowledgeable) dan berkeinginan untuk
melakukan transaksi wajar (arm's length
transaction).
Menurut GAAP pengertian Fair Value adalah:
The fair value of an asset is the amount at which that asset
could be bought or sold in a current transaction between willing parties, other
than in a liquidation. On the other side of the balance sheet, the fair value
of a liability is the amount at which that liability could be incurred or
settled in a current transaction between willing parties, other than in a
liquidation. If
available, a quoted market price in an active market is the best evidence of
fair value and should be used as the basis for the measurement. If a quoted
market price is not available, preparers should make an estimate of fair value
using the best information available in the circumstances. In many
circumstances, quoted market prices are unavailable. As a result, difficulties
occur when making estimates of fair value.
Menurut FASB pengertian Fair Value adalah Fair
value sebagai tingkat harga dimana aset dapat ditukar pada transaksi sekarang di
antara pihak-pihak yang mengetahui dan bersedia. Untuk hutang, fair value diartikan sebagai jumlah yang
akan dibayarkan untuk mentransfer kewajiban kepada debitor baru.
Menurut Dictionary
of Accounting adalah:
A price paid by a buyer who knows the value of what he or she
is buying, to a seller who also knows the value of what is being sold, i.e.,
neither is cheating the other”. Atau “A method of valuing the assets and
liabilities of a business based on the amount for which they could be sold to
independent parties at the time of valuation family company.
Menurut International
Accounting Standar Fair Value adalah Fair value is defined in terms of a price agreed by a willing
buyer and a willing seller in an arm’s length transactio.
2.
Perdebatan Mengenai Fair Value
Fair value
ditetapkan oleh International Accounting
Standard Board (IASB) sebagai dasar untuk mengukur aset. Dengan
diperkenalkannya International Financial
Reporting Standard (IFRS) di berbagai belahan
dunia, penggunaan metode fair value
secara benar menjadi sangat penting. Akan tetapi, jika kekuatan ekonomi
terbesar di dunia tidak termasuk di dalamnya (Amerika Serikat), maka tidak
dapat benar-benar disebut seluruh dunia. Amerika Serikat tidak mengadopsi IFRS,
akan tetapi mereka mempunyai standar akuntansi sendiri yang disusun oleh Financial Accounting Standard Board
(FASB). FASB tidak mengakui fair value
sebagai dasar untuk mengukur aset, mereka mencatat aset dengan dasar biaya
historis (historic cost). Meskipun
demikian, FASB dan IASB bekerja sama untuk berusaha mengharmonisasikan standar
akuntansi masing-masing. Pertanyaan mengenai bagaimana aset seharusnya diakui
di neraca merupakan salah satu isu penting yang harus dicari solusinya. Untuk
itu baik IASB maupun FASB melakukan pengujian secara seksama terhadap fair value, tentang arti dari fair value dan bagaimana seharusnya
diaplikasikan. Sementara itu FASB secara serentak melakukan investigasi sendiri
terhadap fair value dan telah
menerbitkan sebuah exposure draft.
Seiring perkembangan zaman, ternyata penggunaan historical cost tidak lagi relevan
karena kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan telah terhambat oleh
tantangan yang serius. Banyak orang yang
berpendapat dan yakin bahwa standar akuntansi yang menggunakan historical cost memainkan peranan
penting sebagai penyebab kerusakan perekonomian, terutama lembaga simpan pinjam
tahun 1980-an dan masalah perbankan 1990-an, karena
pada waktu itu banyak laporan keuangan yang tidak mengungkapkan kerugian segera
pada saat terjadi. Sehingga terdapat kesepakatan bahwa standar akuntansi yang
ada perlu diperbaiki untuk memastikan bahwa laporan keuangan bermanfaat,
relevan, dan terpercaya. Dan dibuatlah laporan keuangan berbasis Fair Value.
Ada banyak diskusi dalam beberapa waktu terakhir mengenai peran
akuntansi dalam penurunan ekonomi baru-baru ini. Sejak krisis keuangan dimulai,
dan perdebatan tentang akuntansi nilai wajar semakin intensif. Bank-bank dan
pihak-pihak lain berpendapat bahwa akuntansi nilai wajar bertanggung jawab atas
kelemahan dan ketidakstabilan yang mereka alami, sedangkan akuntan dan
pengacara investor berpendapat bahwa kebenaran (fakta tentang aset milik
bank-bank) adalah apa yang akhirnya menyebabkan masalah mereka.
Pada tahun 1938, Presiden Franklin D. Roosevelt menghapuskan akuntansi MTM; Milton Friedman menuduh akuntansi MTM sebagai sumber utama yang menyebabkan melemahnya modal yang menyebabkan bank-bank dilikuidasi dalam “Great Depression” (Berry 2008). Pertanyaan berikutnya adalah apakah fair value memainkan peran dalam krisis keuangan baru-baru ini? Untuk memahami implikasi dari fair value, kita harus mulai dengan pentingnya akuntansi terhadap sistem ekonomi kita. Pusat kapitalisme adalah identifikasi harga dan perhitungan laba rugi. Penilaian paling penting yang dibuat oleh manajer adalah apakan keputusan mereka menghasi paling penting yang dibuat oleh manajer adalah apakan keputusan mereka menghasilkan keuntungan (laba) atau kerugian. Apalagi, investor, kreditor, dan partner bisnis menggunakan data akuntansi untuk membuat keputusan untuk alokasi investasi, memperpanjang kredit, dan mengevaluasi kerja sama.
Pada tahun 1938, Presiden Franklin D. Roosevelt menghapuskan akuntansi MTM; Milton Friedman menuduh akuntansi MTM sebagai sumber utama yang menyebabkan melemahnya modal yang menyebabkan bank-bank dilikuidasi dalam “Great Depression” (Berry 2008). Pertanyaan berikutnya adalah apakah fair value memainkan peran dalam krisis keuangan baru-baru ini? Untuk memahami implikasi dari fair value, kita harus mulai dengan pentingnya akuntansi terhadap sistem ekonomi kita. Pusat kapitalisme adalah identifikasi harga dan perhitungan laba rugi. Penilaian paling penting yang dibuat oleh manajer adalah apakan keputusan mereka menghasi paling penting yang dibuat oleh manajer adalah apakan keputusan mereka menghasilkan keuntungan (laba) atau kerugian. Apalagi, investor, kreditor, dan partner bisnis menggunakan data akuntansi untuk membuat keputusan untuk alokasi investasi, memperpanjang kredit, dan mengevaluasi kerja sama.
Menggunakan akuntansi mark-to-market
akan berakibat perubahan yang terus-menerus pada laporan keuangan perusahaan
ketika nilai aset mengalami kenaikan dan penurunan serta laba dan rugi yang
dicatat. Hal ini membuat semakin sulit untuk memastikan apakah laba dan rugi
diakibatkan oleh keputusan bisnis yang dibuat manajemen atau oleh perubahan
yang terjadi di pasar.
Masalah lain muncul saat akan mengubah nilai aset berdasarkan
harga pasar. Siapa yang menentukan harga pasar? Ini mungkin pertanyaan yang
mendasar, misalnya bagaimana menentukan harga pasar dari hutang obligasi yang
dijamin. Kubu yang
menentang akuntansi berdasarkan nilai pasar menggunakan argumentasi bahwa market value accounting kurang dapat
dipercaya dan menjadi halangan utama dalam penerapannya dan kukuh menganggap
model historical cost lebih unggul
sebab lebih dapat dipercayai (tingkat reliabilitas-nya lebih tinggi). Mereka
ngotot bahwa subjectivity estimasi
nilai wajar aktiva (fair value asset)
dan liabilities tanpa pasar yang
likuid membuat laporan keuangan menjadi tidak dapat dipercaya. Tetapi ada juga
sebagian orang beranggapan bahwa subjectivity
selalu menjadi bagian dari akuntansi dan masalah pengukuran dalam melaporkan
informasi keuangannya berdasarkan nilai pasar berhasil diterapkan perusahaan,
juga ketika penggabungan usaha dengan metode pembelian. Kemungkinan terbaik
estimasi konsep relevan adalah bahwa penggunaan estimasi lebih baik ketimbang
menggunakan ukuran yang tidak relevan. Masalah yang selalu ada yang tidak dapat
dihindari adalah bahwa model akuntansi berdasarkan historical cost tidak mengakui adanya perubahan nilai bersifat
ekonomis, dan cenderung membiarkan perusahaan memilih sendiri apakah
dan kapan mengakui adanya perubahan tersebut. Ini mendorong adanya bias dalam
pemilihan apa yang dilaporkan, dan memperburuk kompromi
Akan tetapi, hal yang cukup menarik adalah bahwa angka-angka
yang dilaporkan dengan sistem akuntansi berdasarkan nilai pasar mempunyai
korelasi sangat kuat dengan harga saham, dan memberi petunjuk bahwa nilai
berdasarkan pasar lebih baik (lebih terpercaya) dari pada nilai berdasarkan historical cost seperti di AS. Akan
tetapi, meskipun mempunyai keunggulan, sistem market value accounting berpotensi rentan terhadap manipulasi dan
kesalahan estimasi, tidak ditemukan bukti yang menunjukkan bahwa angka-angka
nilai berdasarkan pasar dikelola untuk menghindari peraturan yang membatasi
permodalan. Dapat disimpulkan bahwa, pada akhirnya, penggunaan market value accounting akan memberikan
dukungan berharga kepada lembaga-lembaga keuangan.
Arthur Wyatt, Chairman International
Accounting Standards Committee pada Accounting Horizon (March 1991)
mengemukakan beberapa kelemahan standard akuntansi yang ada selama ini. Dia
mengingatkan bahwa mengaitkan investasi dengan pasar adalah bersumber dari
perdebatan kalangan akademik yang akhirnya berubah menjadi masalah penting yang
harus dipraktekan. Salah satu komentar dari kalangan akademika adalah
mengatakan bahwa standard akuntansi yang ada secara artificial dapat menaikkan
capital (modal), dan pihak-pihak yang menggunakan market value accounting akan
mendorong “artificial volatility” dan
menduga bahwa pola pendapatan yang dilaporkan perusahaan yang relatif smooth
selama kurang lebih 50 tahun mungkin benar-benar artifisial. Bapak Wyatt
menjelaskan bahwa terlalu banyak orang percaya pada angka-angka akuntansi
seolah-olah angka tersebut mencerminkan realitas ekonomi, padahal sebenarnya, akibat
penggunaan model historical cost, akuntansi semakin menjauh dari kenyataan
ekonomi. Beliau mengingatkan dan berkepentingan dengan masalah bahwa akuntansi
berdasarkan historical cost, pengakuan kerugian dapat ditunda hampir tanpa
batas dan mengemukakan argumentasinya bahwa model historical cost dapat
mendorong kebijakan manajemen investasi yang tidak baik, menjual saham yang
menguntungkan dan menahan saham yang merugikan.
3.
Kebaikan Menggunakan Fair Value
Sebagaimana
diungkapkan Wibisana (2009), dibanding historical cost, fair value memiliki tiga keunggulan, yaitu:
Laporan
keuangan menjadi lebih relevan untuk dasar pengambilan keputusan; meningkatkan
keterbandingan laporan keuangan; dan informasi lebih dekat dengan apa yang
diinginkan oleh pemakai laporan keuangan. Dengan demikian, potensi laba/rugi
sebuah perusahaan jauh jauh hari sudah bisa diprediksikan.
Selain itu ada beberapa penelitian
diantaranya Keliat (2009) yang hasilnya menunjukkan bahwa:
Nilai
wajar yang dianalisis berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan.
Sedangkan variabel yang paling berpengaruh adalah nilai wajar berdasarkan
metode excess earnings dengan
tolok ukur laba ekonomi. Temuan ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian
sebelumnya, diantaranya Miller dan Modigliani (1961) yang menyatakan bahwa
sumber yang paling mendasar atas saham adalah laba.
Jadi,
kesimpulannya ada beberapa yang menjadi kebaikan dalam menggunakan Fair Value yaitu:
a.
Relevance.
Banyak orang
percaya bahwa standard akuntansi historical
cost telah banyak kehilangan relevansinya karena kegagalannya mengukur
realitas ekonomi. Hampir semua orang setuju bahwa peristiwa ekonomi yaitu,
kejadian yang mengubah waktu kapan arus kas diterima dan jumlahnya yang akan
datang harus
tercermin (terungkap) dalam laporan keuangan lembaga. Akan tetapi, seringkali
model historical cost hanya mengukur
transaksi sudah selesai dan gagal mengakui adanya perubahan nilai riil lain
yang dapat terjadi.
b.
Reliability.
Masalah yang
selalu ada yang tidak dapat dihindari adalah bahwa model akuntansi berdasarkan historical cost tidak mengakui adanya
perubahan nilai bersifat ekonomis, dan cenderung membiarkan perusahaan memilih
sendiri apakah dan kapan mengakui adanya perubahan tersebut. Ini mendorong
adanya bias dalam pemilihan apa yang dilaporkan, dan memperburuk kompromi
kenetralan dan dipercayainya informasi keuangan.
4.
Keburukan Menggunakan Fair Value
a.
Fair value
berusaha menyediakan informasi yang transparan dengan menilai aset pada tingkat
harga yang dihasilkan jika segera dilikuidasi-sehingga sangat sensitif terhadap
pasar.
b.
Akuntansi fair value bekerja melalui akuntansi mark-to-market (MTM), yaitu aset
dicantumkan pada harga pasar mereka jika diperdagangkan secara terbuka.
Menggunakan akuntansi mark-to-market akan
berakibat perubahan yang terus-menerus pada laporan keuangan perusahaan ketika
nilai aset mengalami kenaikan dan penurunan serta laba dan rugi yang dicatat.
Hal ini membuat semakin sulit untuk memastikan apakah laba dan rugi diakibatkan
oleh keputusan bisnis yang dibuat manajemen atau oleh perubahan yang terjadi di
pasar.
c.
Volatility.
Lembaga keuangan
mengatakan bahwa mereka takut akuntansi berdasarkan pasar akan menyebabkan volatility kinerja lembaga (karena
semakin mudahnya nilai item-item aktiva dan pasiva berfluktuasi). Walaupun
sebenarnya lembaga keuangan yang senantiasa mengelola bahaya yang mengancam
asset dan liability hanya sedikit takut dengan market value accounting. Laporan keuangan lembaga keuangan yang
kurang efektif dalam mengelola risiko akan tercermin pada volatility yang selalu ada dalam setiap usahanya. Para investor dan
kreditur akan memiliki informasi yang lebih berguna dan relevan dalam
membedakan risiko antar perusahaan, ketika mengambil keputusan investasi dan
keputusan pemberian kredit (jika menggunakan MVA).
Hasil
Penelitian yang Relevan:
Jurnal
Internasional
Vol. 4, No.
12 International Journal of Business and Management 194
Discussion
for Applicability of the Fair Value Measurement in the Financial Crisis
Yujing Gao
& Gaichune
Shandong
Economic University, Accounting Institute Jinan 250014, China
E-mail:
gaoyujing152760@163.com
Abstract
In the context of the whole
world financial crisis, the fair value measurement has been provoked furious
condemnation. Some even require revert fair value measurement to historical cost
valuation method. In this paper, the author analyze the
relation between fair value and financial crisis, and on this basis, pointed
out that the fair value measurement is only a catalyst rather than the root causes of the financial crisis.
Fair value measurement still has applicability in the context of the
financial crisis, and analyzed the reasons for the applicability of the fair
value.
Keywords: Financial Crisis, Fair value, Applicability
1.
Raise the Question
The U.S. financial crisis triggered by the sub-prime crisis has
swept the globe, and evolved into a global financial crisis. At the
present time, the financial crisis is engulfing Wall Street crazily, and also
hitting violently the fair value measurement which representing the future direction. Although the
fair value once bring happiness to the Wall Street bankers,
but now they are talking about the mere mention of the fair value. They said
that the fair value, particularly in the measurement of market-based approach, can not objectively
reflect the value of the assets, and also in the financial crisis,
made the company reports too "ugly", affected the company's
performance and investors’ confidence, played a fueling role. Worse
still, some people believe that the international accounting standards’
provisions for the fair value
are one of the culprits that causing the financial crisis. The
sound was immediately received by a number of financial industry
and members of Congress. So they combined to pressure the government and
require fair value measurement
method will be changed back to historical cost method in order to
stabilize the people's hearts.
2.
Fair Value Measurements
and Financial Crisis
The U.S. Financial Accounting Standards No. 157 guidelines require
that there are three levels about fair value measurement. The first level is the financial products that have
an active market transactions, the fair value of such products is
determined by an active market price. The second level is the financial
products that have not an active trading market circumstances, the fair value of these products
refer to the similar products in an active market, or use the value
models that can be supported by an objective reference value. The third level
is the financial products that
have not an active trading market, the fair value of these
products require managements establish the valuation models which based
on the subjective judgments and the market assumptions (Yang, 2008, p.147).
Before the outbreak of the financial crisis, financial instruments
are pricing in accordance with the first level. But financial
crisis has led the real market to a no longer active market. In a no longer
active market, the financial
institutions should valuation the fair value under the third
level. However, because the guidelines are not entirely reasonable,
so the financial instruments still valuation in accordance with the
first-level. And enable the prices of the financial assets and derivative financial products departure from
its intrinsic value badly.
The assets that measured by fair value are undervalued. A large number of provision for
impairment, result in huge losses of book value, thus affect the report performance.
The investors analyze operation performance according to the published
financial statements data and reinforce people's confidence crisis, but the actual loss
should be much smaller than the book. Meanwhile, due to the
sluggish market conditions, most of the normal production and business
operations have been affected, reducing the scale of operation exist widely, and part of the transaction
business are at the edge of bankruptcy, the value of assets or
liabilities that held by enterprises departure from the true value.(E,2008,
p.74-75) The fair value can not reflect the fair value of the assets, and deeply measure the extent of the
financial crisis. So it become the object of criticism, and had been
accused of financial crisis “worse” or even the “culprit” of financial crisis.
3.
Fair Value Measurement
is a Catalyst Rather than the Root Causes of the Financial Crisis
However, the fair value measurement is not the "culprit"
of the financial crisis, it only played a catalytic role in the financial
crisis. Fair value itself has no problem. The question is that the prerequisite
of fair value measurement has
changed. In the financial crisis, an active trading market does
not exist. Therefore, the fair value of financial products is no longer
determined by the market quotations. However, as the changed prerequisite,
people still select the fair value. Therefore, fair value measurement methods deep the financial
crisis, and led to people's criticism of fair value measurement.
The fair value measurement has the pro-cyclical feature, it can
enhance the sense of happiness at bubble period, and escalate
panic at the time of crisis (Fu, 2008, p.10-15). In accordance with the market
valuation cases, when markets are weak, the financial asset prices fell, each participant in the
market will report losses, although this is a nominally loss, but the
rights and interests will be eroded. Since the second half of 2007, the U.S.
sub-prime mortgage crisis unfold, along with the rising of mortgage default rates, financial products’
prices continued to fall, resulting in a large number of
financial institutions have to provision for impairment of its assets, resulted
in a large number of investors selling the holding financial assets crazily, and a sharp decline in the value
of financial assets, financial asset prices fall further, and hit the
investor confidence, thus the investor continue to sell financial assets,
resulting in a new round of falling of financial asset prices (Chen,2008,p.108-109). It is that the fair value’ pro-cyclical
feature exacerbate the financial crisis, and form a double vicious circle of the capital markets and
commodity markets.
However, the application of fair value measurement is totally
clear and definite response to investors’ requests and requirements.
Fair value provides more transparent information to investors. But the
financial industry neglect the
investors’ information needs, only criticize fair value
measurements, but can not raise a convincing alternative. Fair value is
more transparent, timely and efficient in making information users understand
the scale and impact of financial crisis than historical cost. Fair value measurement is not the
root causes of the financial crisis, in fact, the financial sector
created the real estate bubble, and through unregulated, non-transparent
financial innovations such as asset securitization approach to enlarge the financial asset bubble,
since the United States use historical cost principle long-term,
these issue has not surfaced, the accounting with fair value measurement model,
timely, transparently and openly disclosure the financial asset bubbles, make the
shortcomings of the U.S. financial system public in the world, prompting
the financial sector, investors and financial regulatory authorities to address
and resolve financial asset
bubbles. If there is no use of fair value measurement, investors
may be concealed in the bubble that the financial sector created.
4. Fair Value Measurement Still has the Applicability in the
Global Financial Crisis
a.
Fair Value Measurement
Make Accounting Earnings More Relevant
According to the traditional concept of accounting earnings,
accounting earnings is the differences between the realized income and
the corresponding costs. The fair value measurement is to take measure of the
fair value of the capital and
liabilities at the balance sheet date, but also measured the
profits and losses that caused by the change of fair value. This can
compensate for the lacking of accounting earnings, and more reasonably reflect
the financial position, operating results, cash flow and real earnings of the enterprise
(Zhu,2008,p.4-5). The accounting information that measured at fair value
provides more highly relevant information compared to historical cost.
b.
Fair Value
Measurement’s Basis for Decision-usefulness View Still Exists
The basic goal of modern accounting is to be useful for a
decision-making, takes into account to reflect the fiduciary duty. In
the concept of fiduciary responsibility, the accounting information mainly report
the responsibility of management that fulfill the economic situation. Assets measurement
is mainly to protect the assets safety and integrity, and more
emphasis on the reliability of accounting information, and select historical
cost as a measurement model. In the decision-usefulness view, the
relevance associated with the concept of decision-useful features. People
increase relevance
in order to enhance the usefulness of the decision-making. Accounting goal
require not only the information in the past, but also the information on the performance of
present and future. People advocate using a market-pricing to determine
the fair value of financial assets. Fair value measurement is not only able to
meet the needs of short-term
speculative, but also able to meet the needs of investors in the
long-term decision-making, which is widely used (Peng,2008, p.4-8).
Currently, fair value measurement’s basis for decision-usefulness view still
exists. It is difficult to
weaken the fair value measurement.
c.
The Basic Reason of
Fair Value Measurement is Operation Rather than the Basic Usage
Determining fair value by an active market quotation can reflect
the real value of financial assets, in accordance with the
economic substance of the fair value, and also operational. However, when a
mutation in the market, especially the U.S. financial crisis has led to loss of market confidence, the
market quotation is not the optimal choice to determine the fair value.
In the financial crisis, the troubled sellers of assets are in the
"Bargain" situation and irrational state, market price is
also similar to the clearing price of rapid realization assets, does not meet
the accounting assumptions of
"sustainable management". Moreover, in this financial
crisis, there appeared the phenomenon of market liquidity suddenly
disappeared, and the trading volume of many varieties of stock shrank greatly,
indeed, without a buyer, in this case the market is or not an active market is worth exploring. The
causes of the financial crisis are the excessive debt of consumers
and over-leveraged of financial institutions, excessive securitization of
capital markets and excessive
liberalization of financial supervision. The accounting standards
are not the culprit, fair value measurement’sapplication basis and the economic
meaning have no problems, but the method of operation based on the non-fair market
price to determine the fair value in practice, fueled some effect to the
financial crisis. We should not deny fair value’ scientific content, but should establish an effective
mechanism to adjust the mode to determine fair value under non-normal,
non-efficient market condition.
d.
SEC Relax the Fair
Value Measurement Standard Rather than Stopping
September 30, 2008, the United States Securities and Exchange
Commission released a guidance of Financial Accounting Standards No. 157 "Fair Value Accounting",
requiring companies can not simply rely on the non-active trading
price under the financial crisis conditions, but should determine the fair
value of financial assets through the length of time of price declines, or as well as the judge of the
market liquidity, or with the help of internal valuation models and
assumptions. The second rescue package that U.S. House of Representatives
through on October 3, specifically granted the United States Securities and Exchange
Commission the re-classification rights for the financial assets. And
asked the U.S. Securities and Exchange Commission refer the investigation
report about the market measurement to congress within 90 days, and decide whether to
terminate the accounting standards, but still insist on using fair
value measurement before the outcome of the investigation. This shows that the
provisions of No. 157 guidelines have been relaxed
to some extent, and also reflects that the SEC and the FASB has not completely succumbed
to the pressure of the financial sector, resist the pressure of stopping fair
value accounting standards
completely.
References
Chen, Yuyuan. Generally. (2008).Accepted Accounting Principles Which
Related to The U.S. Sub-prime Mortgage Crisis and The Response. Communication of Finance and
Accounting, 10,108-109.
E, zhaodi. (2008). Fair Value and the U.S. Subprime Mortgage
Crisis. CO-opertive economy & Science, 12, 74-75
Fu, Qiang. (2008). Fair Value and Sub-prime. Accounting
Research, 11, 10-15.
Peng, Nanting and Wang, Xiwu. (2008). The Fair Value Accounting
under the Financial Crisis. Accounting Research, 12,4-8.
Yang, Guanghui. (2008). Reflections on Fair Value Measurements
Triggered by the Financial Crisis. Economic & Trade,10, 147.
Zhu, Jinping. (2008). The Trend of The Fair Value. Friends of
Accounting, 11, 4-
C. Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa
terdapat pihak yang mendukung dan menentang fair
value. Karena banyak masalah akuntansi yang dapat dipecahkan dengan
menggunakan fair value sebagai dasar pengukuran asset dan liability yang
diungkapkan dalam laporan keuangan perusahaan karena relevance dan reability,
pengawas lembaga keuangan dari waktu ke waktu secara terus menerus meningkatkan
penerapan konsep fair value. Tetapi fair value juga sangat sensitif terhadap
pasar sehingga akan semakin sulit untuk memastikan apakah laba dan rugi
diakibatkan oleh keputusan bisnis yang dibuat manajemen atau oleh perubahan
yang terjadi di pasar, termasuk volatility kinerja lembaga karena semakin
mudahnya nilai item-item asset dan liability berfluktuasi.
Penerapan model Nilai Wajar ini akan lebih bermanfaat bagi
dunia investasi, pasar modal, pemilik, kreditur dan stakeholder karena nilai wajar
mengadopsi prinsip ‘mark to market’ yang seharusnya
dapat memberikan gambaran yang lebih realistis akan jumlah yang tercatat di
neraca sehingga penerapannya secara konsisten di seluruh dunia patut untuk
didukung. Untuk itu diperlukan sosialisasi guna meningkatkan pemahaman mengenai
penerapan model nilai wajar dan
pengaturannya di dalam Standar Penilaian kepada pengguna jasa, Penilai,
regulator danstakeholder sehingga
penerapan nilai wajar baik untuk
aset maupun kewajiban ini dapat dilaksanakan secara tepat dan konsisten.
Daftar Pustaka
Magnan, M.
(2009). Fair Value
Accounting and the Financial Crisis: Messenger or Contributor?.
Diperoleh 21 Desember 2013, dari http://www.cirano.qc.ca/pdf/publication/2009s-27.pdf.
McCullough, M.
(2009). The Dangers of
Fair Value Accounting. Diperoleh
21 Desember 2013, dari http://www.scribd.com/doc/19594894/Fair-Value-Accounting.
Bechara, Michael (2010). Is
Fair Value Accounting ..Well….Fair?. Diperoleh 21 Desember, dari
http://www.scribd.com/doc/26441843/Fair-Value-Accounting#about.
Hinsa (2009). Implikasi
dan Permasalahan dalam Mengimplementasikan Konsep Nilai Wajar Dalam Kondisi
Ekonomi Saat Ini. Diperoleh
21 Desember 2013, dari http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian%5CSeminar%20nasional%20Mark%20to%20Market%20Accounting.pdf.
Dictionary of Accounting
Gao, Yujing & Gaichune. (2009). Discussion for Applicability of the Fair Value
Measurement in the Financial Crisis, International Journal
Of Business Management, vol 4 no 12 (21 Desember 2013).
Siahaan, Hinsa (2009). Implikasi dan Permasalahan dalam Mengimplementasikan Konsep Nilai
Wajar Dalam Kondisi Ekonomi Saat Ini. Diperoleh tanggal 21 Desember 2013 http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian Seminar nasional Mark to Market Accounting.pdf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar